Kursus/Les Privat Akuntansi dan Pembuatan Laporan Keuangan di Jabodetabek

**Kursus/Les Privat Akuntansi dan Pembuatan Laporan Keuangan di Jabodetabek**
A. Kursus/Les Privat di Jabodetabek

 

Jenis Kursus:

1. Pengantar Akuntansi : Ditujukan untuk peserta yang ingin mendalami ilmu akuntansi dasar (Akuntansi Jasa dan Akuntansi Dagang).

2. Komputerisasi Akuntansi : Ditujukan untuk peserta yang ingin mendalami pengaplikasian ilmu akuntansi kedalam Software Akuntansi

a.  Zahir Accounting        –> Profil: Klik Disini

b.  Accurate Accounting  –> Profil: Klik Disini

 

Pilihan jam Kursus:

Mulai tanggal 5 November 2018 hanya tersedia di hari Minggu : 09.00-18.00

 

Tempat kursus peserta yang menentukan.

Biaya kursus, feel free to ask 🙂
———-

 

BJasa penginputan transaksi dan pembuatan laporan keuangan perusahaan jasa dan dagang di jabodetabek.

Sistem pekerjaan adalah remote.

 

Paket penginputan:

1. Hanya pembuatan laporan keuangan (Laba Rugi, Posisi Keuangan, Perubahan Modal)

2. Full (Jurnal, Buku Besar, Laporan Keuangan)
Portofolio dapat dilihat di IG : project.excelsior

 

Biaya jasa akuntansi, feel free to ask 🙂

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Email: yunissarara16@gmail.com

Line: yunissarara

 

Terimakasih 🙂

Tips Trik Zahir Accounting : Pelunasan Piutang yang di Potong Biaya-Biaya

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Ku ucapkan selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, buat semua insan perselancar dunia maya di seluruh dunia.

Ahay, ceritanya lagi punya ide buat nulis-nulis because ku gabut. Okehlah langsung saja, tips trik Zahir Accounting kali ini adalah bagaimana terjadi transaksi pelunasan piutang oleh pelanggan yang nominalnya tidak sama dengan nilai tagihan pada Invoice, karena ya gitu, ada pemotongan pajak, dan pemotongan biaya-biaya salah satunya adalah biaya administrasi bank. Iya, hidup di dunia memang tidak mudah, apa-apa dipotong. Asal jangan cintaku saja dipotong olehnya. #mulaikumat.

Oke silahkan di cekidot-cekidot

 

Cast kali ini adalah sbb:

CV Excelsior Sukses as Yang Nyediain Jasa

PT Adera Teknikal as Yang Menggunakan Jasa

Yunissa as Orang Ketiga dalam Hubungan Mereka Yang Nulis Ini Tulisan

Oke pastikan kalau mau ikutin tutorial kali ini, Software Zahir nya dibuka dulu yha. J

Next…

 

Nah, ceritanya pada tanggal 1 September 2017 CV Excelsior Sukses mengirimkan Invoice pelunasan 75% kepada PT Adera Teknikal  dengan nilai tagihan sebesar Rp 30.000.000 atas penginputan dan pembuatan laporan keuangan untuk periode Januari-Desember 2016. Jasa yang diberikan CV Excelsior Sukses termasuk Jasa Kena Pajak. Pelunasan diharapkan selesai sebelum jangka waktu 7 Hari.

Untuk menginput Invoice Penjualan adalah sbb:

  • Klik Penjualan – Invoice – Klik Icon + (Tambah Data)

1

  • Isi form invoice penjualan meliputi Nama Pelanggan, No Faktur (Invoice), No SO jika ada, Tanggal Faktur, dan Keterangan untuk keperluan Buku Besar. Opsi Jasa diceklis karena tagihan atas pendapatan jasa. Isi deskripsi pesan sesuai dengan keterangan pada invoice atas jasa.

2

 

  • Pada kolom Kode, klik 2x untuk memilih akun Pendapatan (sisi Kredit)

3

 

  • Kita bisa mencari berdasarkan Nama Akun dengan cara klik tulisan ‘Nama Akun’, lalu pada kotak Search tulis nama akunnya dalam kasus ini adalah ‘Pendapatan Jasa Akuntansi’. Klik Ok.

4

 

  • Isi kolom lainnya yaitu jumlah, harga, dan Pajak yang dikenakan. Isi term pembayaran sesuai jatuh tempo nya. Pastikan nilai saldo terutang sama dengan nilai yang akan ditagihkan. Klik Rekam.

5

 

  • Untuk melihat jurnal yang terbentuk atas input Invoice penjualan maka pada list transaksi penjualan klik kanan, lalu klik ‘Journal Voucher’.

6

 

  • Jurnal yang terbentuk adalah sbb:

7

 

 

Kemudian, pada tanggal 4 September PT Adera Teknikal membayar piutang kepada CV Excelsior Sukses. Berdasarkan rekening koran Bank ABC milik CV Excelsior Sukses, uang yang masuk sebesar Rp 32.293.500. PT Adera Teknikal memotong PPh 23 atas jasa yang diberikan oleh CV Excelsior Sukses. Atas kesepakatan bersama, PT Adera Teknikal mendapatkan potongan sebesar Rp 100.000 atas pembayaran Invoice yang lebih cepat dari jatuh tempo. Karena perbedaan bank antara PT Adera Teknikal dengan CV Excelsior Sukses, maka saat transfer dikenakan biaya administrasi bank yang ditanggung oleh CV Excelsior Sukses sebesar Rp 6.500.

 

Sebelum input pelunasan piutang kedalam Zahir, secara ringkas dapat diketahui:

Uang yang diterima                                                                            = Rp 32.293.500

PPh 23 yang dipotong = 2% x DPP = 2% X Rp 30.000.000           = Rp       600.000

Diskon                                                                                                   = Rp       100.000

Adm Bank                                                                                             = Rp           6.500

Pada zahir, jika terdapat potongan lebih dari 1 biaya, maka penginputan dilakukan 2x.

Pertama, penginputan transaksi pelunasan piutang dimana piutang akan berkurang (sisi kredit). Untuk akun lawannya (sisi debit), maka akan ditampung ke dalam ‘Akun Sementara’.

Kedua, penginputan transaksi reklasifikasi Akun Sementara ke akun-akun yang semestinya.

 

Jika sebelumnya belum mempunyai akun ‘Akun Sementara’, maka dibuat terlebih dahulu sbb:

  • Klik Data-Data – Data Rekening – Klik Icon + (Tambah Data)

8

 

  • Pilih Klasifikasi Akun Laba. Kode Akun dua digit dibelakang adalah ‘99’. Nama akun adalah Akun Sementara. Klik Rekam.

9 

Setelah akun ‘Akun Sementara’ dibuat. Maka langkah pertama adalah input pelunasan piutang sbb:

  • Klik Penjualan – Pembayaran Piutang Usaha – Klik Icon + (Tambah Data)

10

 

  • Untuk Akun Kas, pilih akun ‘Akun Sementara’. Isi keterangan pembayaran piutang meliputi Nama Pelanggan, No Voucher, Tanggal Pembayaran dan Memo. Kolom Sebesar di kosongkan terlebih dahulu.
  • Untuk memilih No. Invoice yang telah dibayar, klik 2x pada kolom No Invoice

11

 

  • Pilih No Invoice yang telah dibayar. Klik Ok.

12

  • Klik pada Kolom Sebesar, maka otomatis nilai terbilang nya muncul. Klik Rekam.

13

 

  • Untuk melihat jurnal yang terbentuk atas pelunasan piutang adalah klik 2x pada daftar transaksi pembayaran piutang usaha, klik Journal Voucher.

14

  • Jurnal yang terbentuk adalah sbb:

15

 

 

 

Langkah kedua adalah penginputan transaksi reklasifikasi Akun Sementara ke akun-akun yang semestinya. Caranya adalah sbb:

  • Klik Buku Besar – Transaksi Jurnal Umum – Klik Icon + (Tambah Data)

16

  • Isi form Jurnal umum meliputi No Referensi, Tanggal dan Keterangan.
  • Isi kolom jurnal sbb:

16a

  • Klik Rekam

 

17

 

 

Untuk melihat semua jurnal yang terbentuk dari tagihan sampai pelunasan langkahnya adalah sbb:

  • Klik Laporan – Klik Laporan Keuangan – Klik Buku Besar – Klik 2x pada Daftar Jurnal – Semua Transaksi

18

 

  • Filter tanggal transaksinya – Klik Ok.

19

 

  • Jurnal yang terbentuk:

20

 

Sekian tulisan kali ini. Kripik dan sarannya sangat dibutuhkan. Like, komen, dan subscribe juga diperlukan. Ga deng, ini bukan sesuatu yang lebih dari TV BOOM!!

Kurangnya mohon maaf, lebihnya mohon maaf juga.

Terimakasih.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

(Kursus privat akuntansi/zahir/accurate dan jasa pembuatan laporan keuangan, Klik Disini)

Tips Trik Zahir Accounting: Perlakuan Akuntansi atas Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Assalamualaikum Wr. Wb.

Haloha.

Selamat pagi. Selamat siang. Selamat sore. Selamat malam.

Akhirnya setelah beberapa bulan tidak posting karena pura-pura sibuk, akhirnya kesampaian juga menulis perdana tentang Zahir Accounting, doakan saja supaya ini tidak segera menjadi yang terakhir juga yah.

Ekspetasinya sih sayah akan terus nulis tentang Zahir Accounting, terutama tentang tips trik atas kasus kasus implementasi di klien yang tak jarang seru bin lucu kayak doi.

Oke tanpa asam dan basa basi lagi, menyambung tulisan saya sebelumnya yang inih, nah bagaimana jika terapkan dan di implementasikan di software Zahir Accounting?

Jadi, kalo yang belum baca ini, sok dibaca dulu aja, biar nyambung baca artikel ini (berasa ada yang baca aja xoxoxo)

Cekidut yah,

Sebelum menginput transaksi ke dalam Zahir, yang harus dilakukan adalah Setup Awal Data Pajak PPN, yaitu sebagai berikut:

  • Klik Menu Data-Data
  • Pilih Data Pajak
  • Pada Data Pajak klik Icon + (Tambah Data)

1

  • Masukkan Data Pajak PPN sbb:

2

  • Klik Rekam

 

Setelah Data Pajak PPN maka selanjutnya adalah menginput  transaksi ke dalam Zahir.

Transaksi 1: Selama bulan Maret 2017, PT Excelsior Sukses membeli Barang X ke CV Aliansi dengan Harga Rp 1.000.000 dan atas pembelian barang tersebut di kenakan PPN dengan tarif 10% dengan transfer bank.

Langkah untuk menginput pembelian Barang Kena Pajak adalah sebagai berikut:

  • Klik Menu Pembelian
  • Pilih Penerimaan Barang
  • Pada Penerimaan Barang Klik Icon + (Tambah Data)

3

  • Isi informasi pembeliannya meliputi Nama Pemasok, Nomor Pembelian, Tanggal Faktur, Barang yang di beli, jenis pajak yang dikenakan. Karena pembelian melalui transfer Bank maka opsi Tunai diceklis.

4

  • Klik Segitiga Bitu Kecil pada Informasi Nilai Total Setelah Pajak

5

  • Pilih akun Bank

6

  • Klik OK

8

  • Klik Rekam

Jurnal yang terbentuk atas pembelian barang via transfer Bank

9

 

Transaksi 2: Selama bulan Maret 2017, PT Excelsior Sukses menjual barang X ke CV Yunrafa dengan harga Rp 2.000.000 atas penjualan barang tersebut CV Yunrafa di pungut PPN dengan tarif 10%. CV Yunrafa membayar secara tunai Rp 1.500.000 dan sisanya tempo N/30.

Langkah untuk menginput penjualan Barang Kena Pajak adalah sebagai berikut:

  • Klik Penjualan
  • Pilih Invoice Penjualan
  • Pada Invoice Penjualan Klik Icon + (Tambah Data)

10

  • Isi informasi transaksi penjualan yang meliputi Nama Pelanggan, No Faktur, Tanggal Faktur, Barang yang dijual, pajak yang dikenakan atas barang pada kolom Pjk. Untuk memasukkan nilai Cash, Pada Baris Biaya Lain Lain, klik segitiga kecil berwarna biru

11

  • Klik pada kolom Kode

12

  • Pilih akun kas

13

  • Klik OK

14

  • Isikan nilai kas yang diterima dengan menambahkan tanda minus, sehingga mengurangi piutang, lalu klik rekam

Maka jurnal atas penjualan Barang Kena Pajak akan terbentuk secara otomatis

15

Saat akhir bulan Maret 2017, untuk melihat rekapan atau daftar PPN Masukan dan PPN Keluaran bisa di lihat di buku besar. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  • Klik Menu Laporan
  • Klik Laporan Keuangan
  • Klik Tab Buku Besar

16

  • Klik 2x pada Buku Besar Mutasi

17

  • Filter tanggal dan akun – Klik OK

18

  • Dari buku besar mutasi terlihat saldo PPN Masukan di Debit sebesar Rp 100.000 dan PPN Keluaran di Kredit sebesar Rp 200.000. Maka PT Excelsior Sukses memiliki Hutang PPN atau PPN Kurang Bayar sebesar Rp. 100.000.

 

Transaksi 3: PT Excelsior Sukses memiliki Hutang PPN atau PPN Kurang Bayar bulan Maret 2017 sebesar Rp. 100.000 yang akan dibayarkan bulan April 2017 mendatang.

Berikut langkah untuk menjurnal pengakuan PPN Kurang Bayar:

  • Klik Menu Buku Besar
  • Pilih Transaksi Jurnal Umum
  • klik Icon + (Tambah Data)

19

  • Input manual untuk jurnal pengakuan PPN

20

  • Klik Rekam

 

Jurnal yang terbentuk atas pengakuan PPN Kurang Bayar adalah sebagai berikut:

21

 

Transaksi 4: Tanggal 15 April, PT Excelsior Sukses membayar PPN Kurang Bayar ke kas negara sebesar Rp 100.000 dengan transfer bank. Berikut langkah untuk menginput pembayaran PPN Kurang Bayar:

  • Klik Kas & Bank
  • Pilih Kas Keluar
  • Pada Kas Keluar Klik Icon + (Tambah Data)

22

  • Isi transaksi pembayaran PPN, pada Alokasi Dana (yang sudah otomatis berada di sebelah debit), isikan kode akun yang akan dibayar oleh bank yaitu “Utang PPN” lalu isi nominal nilai sebesar Rp 100.000.

23

  • Klik Rekam

Jurnal yang terbentuk atas transaksi pembayaran PPN Kurang Bayar di bulan Maret 2017 adalah sebagai berikut:

24

Gampang kan? Gampang kan? Gampang kan?

Iyain aja, biar yang buat senang.

Sekian tulisan kali ini. Semoga bermanfaat.

Terimakasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

(Kursus privat akuntansi/zahir/accurate dan jasa pembuatan laporan keuangan, Klik Disini)

Perpajakan: Perlakuan Akuntansi atas Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Assalamualaikum Wr. Wb.

Haloha.

Selamat pagi. Selamat siang. Selamat sore. Selamat malam.

Segala puji bagi Allah atas segala rahmat dan karunianya yang … eh skip skip ini bukan pidato.

Ehem..

Pada tulisan kali ini, saya akan membahas tentang perlakuan akuntansi terhadap PPN yang kepanjangannya adalah Pajak Pertambahan Nilai, secara umumnya. Step by step dari awal sampai akhir. Tidak seperti cintaku padanya yang tiada akhir. Eaaak.

Makhluk apa ya PPN itu? Kok kayaknya kekinian dan hits bangets? #mulaialay #abaikan

Oke mari kita simak tulisan yang mau mencoba dibuat formal tapi gagal ini…

 

PPN adalah Pajak yang di kenakan atas transaksi penjualan dan pembelian Barang Kena Pajak (BKP) dan Jasa Kena Pajak (JKP).

Perusahaan yang sudah terdaftar sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) wajib kudu fardhu ain memungut dan menyetorkan PPN.

Tarif pajak pada umumnya adalah 10%.

Nilai PPN nya adalah 10% dari Dasar Pengenaan Pajak (DPP).

DPP pada umumnya adalah dari Nilai Total Penjualan/Pembelian setelah dikurangi diskon awal.

PPN yang harus perusahaan PKP pungut ke pembeli pada saat menjual BKP atau JKP di sebut sebagai PPN Keluaran (saldo normal kredit).

PPN yang harus kita bayarkan ke perusahaan PKP pada saat membeli BKP atau JKP di sebut sebagai PPN Masukan (saldo normal debit).

Cukup dengan istilah-istilah yang rumit dan membingungkan seperti hati doi, sekarang mari mulai ke contoh kasus sederhana dibawah ini, check this out:

Kasus: PT Excelsior Sukses

Selama bulan Maret 2017, PT Excelsior Sukses membeli Barang X ke CV Aliansi dengan Harga Rp 1.000.000 dan atas pembelian barang tersebut di kenakan PPN dengan tarif 10% dengan transfer bank.

Maka, secara akuntansi, PT Excelsior Sukses akan menjurnal sebagai berikut:

(Dr.) Persediaan Barang Dagang       Rp 1.000.000

(Dr.) PPN Masukan                               Rp    100.000

(Cr.)           Bank                                                                                  Rp. 1.100.000

 

PT Excelsior Sukses membeli Barang X sebesar 1 Juta, tapi PT Excelsior Sukses harus membayar sebesar 1,1 Juta.

Lah rugi dong ya bayar lebih?

Enggak, bukan gitu santhai.

Next…

 

Selama bulan Maret 2017, PT Excelsior Sukses menjual barang X ke CV Yunrafa dengan harga Rp 2.000.000 atas penjualan barang tersebut CV Yunrafa di pungut PPN dengan tarif 10%. CV Yunrafa membayar secara tunai Rp 1.500.000 dan sisanya tempo N/30.

Maka, secara akuntansi, PT Excelsior Sukses akan menjurnal sebagai berikut:

(Dr.) Piutang Usaha                         Rp 700.000

(Dr.) Kas                                             Rp 1.500.000

(Cr.) PPN Keluaran                                                          Rp 200.000

(Cr.) Penjualan                                                                 Rp 2.000.000

 

(Dr.) Harga Pokok Penjualan       Rp 1.000.000

(Cr.) Persediaan Barang Dagang                                  Rp. 1.000.000

 

Jadi, PT Excelsior Sukses menjual Barang X sebesar 2 Juta, tapi PT Excelsior Sukses malah menerima pembayaran dari CV Yunrafa sebesar 2,2 Juta.

Lah dapet untung dong ya dapat lebih?

Enggak, bukan gitu kamsudnya,

Jadi, PPN yang PT Excelsior Sukses pungut dari pembeli (CV Yunrafa), harus dibayarkan ke kantor pajak atau kas negara paling lambat akhir April 2017.

Tapinya, PT Excelsior Sukses tidak membayar sebesar Rp 200.000, karena sebelumnya PT Excelsior Sukses membayar PPN ke CV Aliansi atas pembelian barang sebesar Rp 100.000. Maka, PT Excelsior Sukses harus membayar PPN bulan Maret 2017 sebesar Rp 100.000 (Rp 200.000- Rp 100.000) .

Jadi, PPN Masukan, berfungsi sebagai pengurang atas PPN yang akan kita setor ke kas negara.

Secara Rumus maka,

PPN yang harus di bayarkan ke Kas Negara = Total PPN Keluaran – Total PPN Masukan

Istilahnya adalah kurang bayar.

 

Nah, di akhir bulan, atau dalam kasus ini, per 31 Maret 2017, PT Excelsior Sukses harus menjurnal pengakuan PPN Kurang bayar sebagai berikut:

(Dr.) PPN Keluaran                                          Rp 200.000

(Cr.) PPN Kurang Bayar/Utang PPN                                          Rp 100.000

(Cr.) PPN Masukan                                                                       Rp 100.000

 

Step 1, Saldo PPN Keluaran = 0

Saldo normal PPN Keluaran di sisi kredit. Untuk meng-nol-kan saldo PPN keluaran, maka jurnal kan PPN Keluaran di sisi debit dengan nominal sebesar PPN Keluaran di saldo normal.

Step 2, Saldo PPN Masukan = 0

Saldo normal PPN Masukan di sisi debit. Untuk meng-nol-kan saldo PPN masukan, maka jurnal kan PPN Masukan di sisi kredit dengan nominal sebesar PPN Masukan di saldo normal.

Step 3, selisih antara PPN Keluaran dan PPN Masukan, masukkan ke akun PPN Kurang Bayar/Utang PPN dengan Saldo Normal Kredit.

 

Terakhir, tanggal 15 April, PT Excelsior Sukses membayar PPN Kurang Bayar ke kas negara sebesar Rp 100.000 dengan transfer bank.

Maka, PT Excelsior Sukses akan menjurnal sbb:

(Dr.) PPN Kurang Bayar/Hutang PPN                       Rp 100.000

(Cr.) Bank                                                                                                            Rp 100.000

 

Setelah membaca penjelasan tentang perlakuan akuntansi untuk PPN, apa masih ada yang kurang jelas? Bisa di tanyakan di kolom komentar hehehe.

Maka untuk selanjutnya, saya akan membahas cara mengaplikasikan perlakukan akuntansi untuk PPN yang awalnya di jurnal secara kedalam sistem akuntansi, yaitu Zahir Accounting Software karena saya trainernya HAHAHA, di tulisan saya berikutnya. Eaaak.

Sekian tulisan kali ini. Semoga bermanfaat.

Terimakasih. Muah.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

(Kursus privat akuntansi/zahir/accurate dan jasa pembuatan laporan keuangan, Klik Disini)

Puisi: Dulu dan Kini

16 April 2017

Dipukul 10.31 Malam

Sama seperti 3 tahun yang lalu

Jiwa kembali sepi

Hati kembali kosong

Bedanya …

Saat ini aku baru saja beristirahat dari penat

Dalam rangka mengejar impian duniawi

Di depan layar cerah persegi empat

Yang sejak beberapa periode belakangan

Jadi pemandangan favorit

Bedanya …

Dulu aku baru saja beristirahat dari lelah

Dalam rangka mengejar nilai mumpuni

Di depan layar cerah persegi empat

Yang mulai dari saat itu

Jadi kebutuhan favorit

Dulu …

Kabar yang sampai sekarang tak ingin ku dengar

Membuatku bingung, linglung

Bahkan sampai tak sadar aku dan dia di rumah yang sama

Rumah dia

Ku lihat dia, realita, terpejam

Dikelilingi, dibacakan ayat-ayat suci

Yang tak jarang terdengar sayup-sayup tangis

Tak menangis aku

Aku bahkan tak tahu

Apa oksigen masih terdapat dalam paru-paru

Apa aliran darah masih terpompa oleh jantung

Apa hati sudah kosong saat pemiliknya

Dia

Sudah tak terisi

Apa jiwa sudah sepi saat pemiliknya

Dia

Sudah tak ramai

Perlahan ku mendekat

Ku ucapkan selamat tinggal

Saat ku kecup keningnya

Untuk yang pertama

Untuk yang terakhir

Kini …

Kabar yang sampai sekarang tak ingin ku dengar

Membuatku bingung, linglung

Bahkan sampai tak sadar aku dan dia di rumah yang sama

Rumah dia

Ku lihat dia, realita, tersenyum

Dikelilingi, dibacakan ucapan bahagia

Yang tak jarang terdengar sayup-sayup haru

Tak menangis aku

Aku bahkan tak tahu

Apa oksigen masih terdapat dalam paru-paru

Apa aliran darah masih terpompa oleh jantung

Apa hati sudah kosong saat pemiliknya

Dia

Sudah tak terisi

Apa jiwa sudah sepi saat pemiliknya

Dia

Sudah tak ramai

Dia

Yang pernah membuatku bangkit dan yakin kembali

Akan bahagia

Perlahan ku menaiki tiga anak tangga dan melangkah

Ku ucapkan selamat tinggal

Saat ku salami dia dan wanitanya

Untuk yang pertama

Untuk yang terakhir

(YRF)

Perpajakan: PPh Final vs PPh Tidak Final

Assalamualaikum Wr. Wb.

Haloha amigos salvegos(?)

Padaaaaa, tulisan kali ini saya akan menyampaikan sebuah materi perpajakan yaitu PPh Final vs PPh Tidak Final.

Tenang, kali ini tulisannya singkat (yaay)



 

Jadi dimulai dari pengertian PPh itu sendiri. Makhluk seperti apa itu PPh?

Lalu, kenapa ‘h’ nya huruf kecil? (atau apa cuma saya yang pernah berfikir demikian :p)

PPh adalah singkatan dari Pajak Penghasilan. Jadi akhirnya terbongkarlah kenapa ‘h’ nya itu huruf kecil bukan huruf besar. #infopenting2k16

Saya itu suka maleess banget ngasih pengertian akan suatu hal yang sebenernya kalo dari kata tersebut sudah mencerminkan definisi. Misalnya nih ya:


A: Apa itu Pajak Penghasilan?

Saya: Pajak atas Penghasilan.

A: Ya itu saya juga tahu. Ya pajak atas penghasilan itu yang kayak gimana definisinya?


Padahal dari situ sudah keliatan, tapi minta definisi yang panjang-panjang. Biasanya saya suka pakai kata-kata sendiri seperti:


Saya: *menghela nafas* Jadi, kita punya penghasilan, bentuk apapun, baik itu gaji, upah, fee jasa, royalti, dan lain-lain. Lalu atas penghasilan yang kita punya tersebut dikenakan pajak dengan tarif yang berbeda-beda tergantung dari jenis penghasilannya.


Lalu yang terjadi adalah …


A: Maksud saya, definisi menurut undang-undang PPh nya. Kamu ini tahu atau tidak sih?


Padahal kan lebih enak pakai kata-kata sendiri. Tapi saklek gitu. Tapi gpp, challenge acceptance!


Saya: *menghela nafas jilid 2* Menurut Pasal UU No. 36 Tahun 2008 (UU PPh) Pajak Penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap Subjek Pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam satu tahun pajak.


Lalu timbul pertanyaan, apa itu Subjek Pajak dan apa yang dimaksud dengan penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam satu tahun pajak. Jeng-jeng. Skip lah. Besok-besok akan kita kupas full tentang PPh Potong-Pungut.

Next..

Setelah kita tahu apa itu Pajak Penghasilan, kemudian selanjutnya ada istilah Final dan Tidak Final. Apa pula itu yaa?

Lagi-lagi dari kata-katanya sudah ketahuan bukan?

Final –>  sudah final, artinya sudah selesai

Tidak Final –>  Belum final, artinya belum selesai

Kita jadikan ini keyword, supaya jika kelak kita lupa, maka dengan mengingat keyword ini maka kita akan inget (semoga :p)

Lalu bagaimana kita mengimplementasikan keyword ini. Stay tunee..


PPh Final –> Kita kena pajak, langsung bayar saat itu juga. Selesai.

PPh tidak final –>  Kita kena pajak, tidak langsung dibayar saat itu juga. Belum selesai.


B: Heh apaan? Masih ga ngerti.

Calm down..

Jadi beginii..

Dah selesai..

#kemudiandiamukmasa


 

Jadi, maksudnya PPh Final adalah, saat kita sebagai subjek pajak (baik orang pribadi atau badan usaha) dikenakan Pajak Penghasilan, maka pada saat itu juga kita akan dipotong pajak dan dianggap telah melunasi kewajiban perpajakan kita untuk menyetor dan melaporkan pajak. Daaaan, karena sudah dianggap telah melunasi kewajiban perpajakan, maka PPh final ini tidak bisa di kreditkan atau di kurangkan dari jumlah PPh terutang pada saat perhitungan PPh badan.

Lalu, maksudnya PPh tidak Final adalah, saat kita sebagai subjek pajak (baik orang pribadi atau badan usaha) dikenakan Pajak Penghasilan, maka tidak pada saat itu juga kita akan dipotong pajak. Jadi, belum dianggap telah melunasi kewajiban perpajakan kita untuk menyetor dan melaporkan pajak. Terus, kapan dianggapnya? Pada saat perhitungan PPh badan. Jadi PPh Tidak Final ini akan mengkreditkan/mengurangkan si PPh badan ini.

Simpel nya sih, mending dihafalin salah satu saja, misalnya PPh Final, nah kalau mau tahu PPh tidak final tinggal di negatifkan saja pengertian dari PPh Final yang telah dihafalin. 😀


 

B: Contoh PPh final dan tidak final apa saja ya?

Nice Question!

Contoh PPh Final adalah PPh Pasal 4 ayat 2, yaitu pajak yang dikenakan atas jasa sewa tanah dan bangunan, bunga deposito, dll.

Contoh PPh tidak Final adalah sebagai berikut:

  1. PPh Pasal 21 –>  Gaji, Upah, Honorarium untuk wajib pajak dalam negeri
  2. PPh Pasal 22 –> Impor, Bendaharawan, Migas, Lelang
  3. PPh Pasal 23 –> Royalti, Sewa selain tanah dan bangunan, jasa, dividen.
  4. PPh Pasal 24 –> PPh atas penghasilan WNI di luar negeri.
  5. PPh Pasal 25 –>  Angsuran PPh
  6. PPh Pasal 26 –> Gaji, Upah, Honorarium untuk wajib pajak luar negeri
  7. PPh Pasal 28 –> Pajak Lebih Bayar (Angsuran PPh Pasal 25 setahun > PPh Terutang)
  8. PPh Pasal 29 –> Pajak Kurang Bayar (Angsuran PPh Pasal 25 setahun < PPh Terutang)

 

Jadi, sudah bisa dipahami perbedaan PPh Final dan PPh Non Final? Atau malah bikin bingung? Feel free to ask lah yaa 🙂



 

Sekian dan Terimakasih. Semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum Wr. Wb

 

(Kursus privat akuntansi/zahir/accurate dan jasa pembuatan laporan keuangan, Klik Disini)

SMBD: Ketergantungan Fungsional dan Normalisasi BCNF (Contoh Kasus: Tabel RAPAT_KARYAWAN)

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

Halohaa semuanya, kali ini saya akan menuliskan salah satu materi sistem manajemen basis data dan membedah soal tentang bagaimana cara menentukan ketergantungan fungsional dari tabel dan cara normalisasi tabel sampai level BCNF.

Check this out…



 

Kasus Soal

Tabel RAPAT_KARYAWAN (NamaKaryawan, Namaproyek, Tanggal)

Asumsi baris pada tabel ini nyatanya menunjukkan bahwa seorang karyawan dari beberapa proyek menghadiri sebuah rapat pada tanggal yang telah ditentukan. Asumsikan bahwa sebuah proyek akan dirapatkan setiap hari. Asumsikan juga bahwa hanya satu karyawan yang bertanggungjawab pada sebuah proyek yang diberikan, akan tetapi para karyawan dapat menangani banyak proyek.

Diminta:

  1. Tentukan ketergantungan fungsional dari tabel RAPAT_KARYAWAN
  2. Ubah tabel ini menjadi satu atau lebih tabel dalam bentuk BCNF. Tentukan primary keys, candidate keys, foreign key, dan referential integrity constraint nya
  3. Apakah desain yang anda buat di bagian b meningkatkan performa tabel dari yang sebelumnya? Apa keuntungan dan kerugian dari tabel yang sudah di normalisasi BCNF itu.

Selanjutnya mari kita jawab satu persatu secara berurutan dibawah ini:



 

Soal ke 1: Tentukan ketergantungan fungsionalitas dari tabel RAPAT_KARYAWAN

Jawab:

Pertama kali kita harus mencari tau higlight atau inti dari kasusnya. Inti dari kasus diatas:

  • Satu karyawan dari proyek akan menghadiri rapat pada tanggal tertentu
  • Satu proyek melakukan rapat satu kali sehari
  • Satu karyawan mewakili satu proyek
  • Karyawan bisa ditugaskan banyak proyek

Kedua, barulah kita membuat ketergantungan fungsionalnya Ketergantungan fungsional pada tabel RAPAT_KARYAWAN yaitu:

  1. NamaProyek –>  NamaKaryawan

Artinya: NamaProyek menentukan NamaKaryawan, NamaKaryawan bergantung secara fungsional pada NamaProyek.

  1. (NamaProyek, Tanggal) –> NamaKaryawan

Artinya: NamaProyek dan Tanggal menentukan NamaKaryawan, NamaKaryawan bergantung secara fungsional pada NamaProyek dan Tanggal.



 

Soal ke-2: Ubah tabel ini menjadi satu atau lebih tabel dalam bentuk BCNF. Tentukan primary keys, candidate keys, foreign key, dan referential integrity constraint nya

Jawab: 

Tabel Awal: RAPAT_KARYAWAN (NamaKaryawan, Namaproyek, Tanggal)

Ketergantungan fungsional:

  1. NamaProyek –> NamaKaryawan
  2. (NamaProyek, Tanggal) –> NamaKaryawan

Untuk menjawab pertanyaan ini ada dua cara.

Cara pertama kita harus melakukan tahap normalisasi satu persatu. Dimulai dari bentuk normal pertama (1NF), bentuk normal kedua (2NF), bentuk normal ketiga (3NF), baru BCNF.

Atau cara kedua kita bisa langsung membuat BCNF nya tanpa melewati tiga tahap sebelumnya. Tapi tentu saja cara kedua ini dilakukan apabila kita sudah terbiasa untuk membuat normalisasi.

Kali ini saya akan melakukan tahap normalisasi satu persatu. Langkah – langkahnya adalah sebagai berikut:

1) 1NF

Cara untuk menjadi 1NF adalah mengeliminasi data rangkap, satu cel hanya terdiri dari 1 data, serta setiap baris dan kolomnya itu unik.

Asumsi tabel RAPAT_KARYAWAN sudah berada di 1NF.

 

2) 2NF

Cara untuk menjadi 2NF adalah tabel sudah berada di 1NF, lalu mengubah partial functional dependencies menjadi full functional dependencies. Maksudnya adalah pada 2NF semua atribut harus bergantung penuh pada primary key nya. Dimana pada tabel RAPAT_KARYAWAN primary key nya adalah NamaProyek dan Tanggal.
Tabel Awal: RAPAT_KARYAWAN (NamaKaryawan, Namaproyek, Tanggal)

Ketergantungan fungsional:

  1. NamaProyek –> NamaKaryawan
  2. (NamaProyek, Tanggal) –> NamaKaryawan

NamaKaryawan bergantung secara fungsional pada NamaProyek dan Tanggal, NamaKaryawan bergantung secara fungsional pada hanya NamaProyek. Akan tetapi NamaKaryawan tidak bergantung secara fungsional hanya pada Tanggal. Maka atribut NamaKaryawan menyebabkan partial functional dependencies.

Maka yang harus dilakukan:

  • Kembangkan relasi NamaProyek à NamaKaryawan
  • Hilangkan partial functional dependencies dari sebuah tabel
  • Buat tabel baru dari perkembangan relasi tersebut

Tabel setelah 2NF:

  1. RAPAT_KARYAWAN _1 (NamaProyek, Tanggal)
  2. RAPAT_KARYAWAN _2 (NamaProyek, NamaKaryawan

 

3) 3NF

Cara untuk menjadi 3NF adalah tabel sudah berada di 2NF dan menghilangkan ketergantungan transitif. Maksudnya ketergantungan transitif adalah artinya semua nonkey atribut tidak bergantung secara fungsional pada nonkey atribut yang lain.

  • Tabel RAPAT_KARYAWAN _1 dan RAPAT_KARYAWAN _2 sudah berada di 3NF karena tidak ada ketergantungan transitif pada kedua tabel tersebut.

 

4) BCNF

Cara untuk menjadi BCNF adalah setiap determinant adalah candidate key.

  • Tabel RAPAT_KARYAWAN _1 dan RAPAT_KARYAWAN _2 sudah berada di BCNF karena setiap determinant adalah candidate key

Jadi bentuk tabel setelah di normalisasi sampai BCNF adalah

  1. RAPAT_KARYAWAN _1 (NamaProyek, Tanggal)

Ketergantungan Fungsional: (NamaProyek, Tanggal) –> NamaProyek

Candidate Keys: (NamaProyek, Tanggal)

Primary Key: NamaProyek

 

  1. RAPAT_KARYAWAN _2 (NamaProyek, NamaKaryawan)

Ketergantungan Fungsional: NamaProyek  –>  NamaKaryawan

Candidate Keys: NamaProyek, NamaKaryawan

Primary Key: NamaKaryawan

Foreign Key: NamaProyek

Referential Integrity Constraints:

  • NamaProyek pada tabel RAPAT_KARYAWAN _2 harus ada di tabel RAPAT_KARYAWAN _1


 

Soal ke-3: Apakah desain yang anda buat di bagian b meningkatkan performa tabel dari yang sebelumnya? Apa keuntungan dan kerugian dari tabel yang sudah di normalisasi BCNF itu?

Jawab:

Tabel yang telah dinormalisasi pada bagian b merupakan versi yang telah diperbaiki sehingga mudah untuk melacak detail proyek ketika kita mempunyai database yang telah dinormalisasi dan kita akan mendapatkan pencarian hasil query yang lebih baik ketika tabel telah dinormalisasi.  Hanya saja query yang akan dicari dan dihasilkan menjadi lebih kompleks.



 

Sekian pembahasannya. Semoga soal dan pembahasan yang diberikan memudahkan kalian untuk memahami materi tentang ketergantungan fungsional dari tabel dan cara normalisasi BCNF tabel ya. Aamiin. Kritik dan saran sangat dibutuhkan ya. Terimakasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

Nb: Tulisan ini dapat di download dalam bentuk PDF disini.


 

Daftar Referensi 

David M. Kroenke, Database Processing, Fundamentals, Design and Implementation, 12nd Edition, Prentice-Hall Int’l Edition, 2012.

Sistem Informasi Akuntansi: Cara Menganalisis Kelemahan Aktivitas Pengendalian Internal (Contoh Kasus: Siklus Pendapatan)

Assalamualaikum Wr. Wb.

Haloha.

Iya, pada tulisan kali ini, dengan judul yang panjang kali lebar yang mirip-mirip dengan judul Tugas Akhir, saya akan memberikan cara-cara ala mahasiswi bagaimana cara menaklukan hati si doi menganalisis kelemahan aktivitas pengendalian internal pada suatu siklus di SIA. Ini dia tahap-tahapnya, jeng jeng.


Tahap 1: Siapkan fondasi, amunisi, alat tempur, atau apapun kalian menyebutnya. Pastikan isi dengan teori dulu sebelum memulai eksekusi. Salah satunya bisa di download versi docx klik disini coba atau versi pdf klik disini coba.

Sebelumnya, cari tahu tentang apa itu siklus-siklus di SIA. Pada umumnya, siklus-siklus di SIA terdiri dari siklus pendapatan, siklus pengeluaran, dan siklus konversi. Kita mesti tahu dan paham alur siklus yang seharusnya terjadi, bagaimana standar bakunya, setelah hal ini harus bagaimana. Baca pelan-pelan, anggap saja baca siklus-siklus di SIA seperti baca novel gratisan di Wattpad. Hee. Belum paham juga, baca terus bos. Masih belum juga, santai aja, jangan panik.

Kemudian, pahami Flowchart dan barulah dibaca-baca materi tentang pengendalian internalnya. Ada beberapa model pengendalian internal, terserahlah ya mau pakai COSO COBIT. Kalau di materi ini pakai yang menurut COSO. Nah komponen pengendalian COSO itu 5, yaitu lingkungan pengendalian, penaksiran resiko, aktivitas pengendalian internal, informasi dan komunikasi, dan pemantauan. Setelah dipelajari, barulah pahami lebih mendalam tentang aktivitas pengendalian internalnya. Bagaimana aktivitas pengendalian internal pada siklus pendapatan atau pengeluaran atau konversi. Nah, kalau yang attach itu cuma yang siklus pendapatan, untuk siklus lain bisa di googling. Heee.


 

Tahap 2: Baca suatu kasus siklus dengan cermat.

Yap betul. Kalian harus paham kasus siklus nya. Kalau ada yang enggak jelas alurnya ditanyakan ke dosen yang kasih soal (kalau itu berbentuksoal latihan/ujian) atau ke senior tempat magang kalian (kalau ini topik Tugas Akhir mu huahaha). Setelah dibaca, tandai dengan garis bawah/stabilo tentang:

  1. Bagian-bagian internal yang terlibat langsung dalam suatu siklus
  2. Proses yang terjadi dalam bagian-bagian tersebut (biasanya ditandai dengan kata “me/mem”
  3. Dokumen-dokumen yang terkait dengan siklus

Setiap point tersebut ditandai dengan warna yang berbeda. Misalnya seperti gambar berikut ini:

contoh1

Udah? Mari ke tahapan selanjutnya..


 

Tahap 3: Buat Flowchart untuk dasar kita menganalisis aktivitas pengendalian internalnya.

Setelah tahap ‘menandai’ diatas, selanjutnya membuat flowchart sebagai dasar analisis. Ada beberapa jenis Flowchart di dunia ini, yaitu flowchart sistem, flowchart dokumen, flowchart skematik, flowchart program dan flowchart proses. Biasanya, untuk analisis pengendalian internal memakai flowchart dokumen karena menunjukkan aliran aktivitas dari dokumen, laporan dan formulir plus tembusannya. Untuk cara-cara membuat dokumen flowchart dari suatu kasus siklus/proses bisnis selengkapnya bisa di klik dimari . (Nb: Maaf kalau masih banyak kekurangan dalam pembuatan videonya.)

Akan tetapi, kalau misalkan waktunya terbatas, dan siklusnya tidak terlalu panjang, dari tahap dua bisa langsung ke tahap empat. Karena tujuan tulisan ini adalah cara untuk menganalisis kelemahan aktivitas pengendalian internal, maka untuk Flowchart diskip saja ditulisan kali ini.


 

Tahap 4: Tuliskan bagaimana aktivitas pengendalian internal yang terjadi

Dibuat saja per komponen aktivitas pengendalian internal, tidak perlu ada semua, jadi kalau emang tidak ada satu komponen dalam satu siklus ya tidak masalah, jangan panik.

Ambil contohnya pada gambar yang telah kita tandai

contoh1

Lalu bandingkan dengan standar baku SIA untuk siklus pendapatannya

contoh2

Got it?

Oke Next,

Ini adalah Keyword/ Kata Kunci Komponen aktivitas pengendalian internal:

  1. Otorisasi Transaksi –> TTD/persetujuan dari Kepala Bagian/Manajer/Direktur
  2. Pemisahan tugas –> Tidak ada rangkap tugas dalam suatu bagian
  3. Pencatatan akuntansi –>  Pemeliharaan pada dokumen/jurnal/buku besarnya.
  4. Supervisi –>  Cara atasan mereview/melihat pekerjaan bawahan
  5. Pengendalian akses –> Cara proteksi aset fisik perusahaan
  6. Verifikasi Independen –> Pengecekan dokumen yang dibuat bagian A oleh bagian B.

Jadi, untuk aktivitas pengendalian internal pada contoh kasus adalah sebagai berikut:

1. Otorisasi Transaksi

Tidak ada cek terhadap status kredit pelanggan apakah pelanggan layak untuk diberikan kredit. Asumsi, begitu Sales Order dibuat, langsung di otorisasi ke Kepala Bagian/Manajer/Direktur Penjualan.

2. Pemisahan tugas

Bagian yang menerima pesanan dari pelanggan (bagian penjualan) sudah terpisah dengan bagian yang akan membuat dan mengirimkan tagihan ke pelanggan (bagian tagihan).

Bagian yang menyimpan barang (bagian gudang) sudah terpisah dengan bagian yang akan mengirimkan barang (bagian pengiriman.

Tidak ada pemisahan tugas antara bagian penjualan dengan bagian/staf yang khusus untuk pengecekan kredit pelanggan karena dikasus tidak ada pengecekan terhadap status kredit pelanggan.

3. Pencatatan akuntansi

Pegawai bagian penjualan mengarsip 1 lembar sales order pada file open customer order.


 

Tahap 5: Temukan kelemahan aktivitas pengendalian internal pada suatu siklus SIA

Dari hasil analisis yang telah dibuat sebelumnya, akan sangat mudah menemukan kelemahan aktivitas pengendalian internalnya. Biasanya dan sering, dimulai dari kata ‘tidak’. Setelah menemukan kelemahan, jangan lupa untuk memaparkan ‘akibat’ yang ditimbulkan dari kelemahan serta berikan ‘solusi atau rekomendasi’. Sebab-Akibat-Solusi. Hee.

Jadi, kelemahan aktivitas pengendalian internal pada contoh kasus diatas adalah sebagai berikut:

  1. Tidak ada cek terhadap status kredit pelanggan apakah pelanggan layak untuk diberikan kredit dan Tidak ada pemisahan tugas antara bagian penjualan dengan bagian/staf yang khusus untuk pengecekan kredit pelanggan karena tidak ada pengecekan terhadap status kredit pelanggan. Akibatnya, ada kemungkinan untuk terjadinya pitang tak tertagih mengingat sejarah kredit pelanggan tidak diketahui. Seharusnya, terdapat bagian/staff yang khusus untuk menangani pengecekan kredit pelanggan sebelum Sales Order diotorisasi.

 

Contoh kasus siklus SIA tadi baru 1 paragraf dari keseluruhan siklus SIA, akan tetapi jika diteliti kita sudah menemukan 2 kelemahan dalam aktivitas pengendalian internalnya. Bagaimana? Siap untuk menemukan kelemahan-kelemahan aktivitas pengendalian internal suatu siklus SIA baik di kertas soal latihan/ujian di kampus maupun di dunia nyata?


 

Sekian. Semoga bermanfaat ya. Jangan lupa kasih kripik dan saran, dan kalau ada yang masih kurang jelas, feel free to ask. Terimakasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

(Kursus privat akuntansi/zahir/accurate dan jasa pembuatan laporan keuangan, Klik Disini)

Perpajakan: Rangkuman Materi KUP A dan B

Assalamualaikum Wr. Wb.

Haloha Spada..

Saya lagi mengalami masa-masa dimana saya senang banget mantengin layar laptop, baik sebagai orang yang butuh hiburan karena saya pengangguran, maupun cari hal-hal yang bermanfaat misalnya nonton captain tsubasa video tutorial atau video yang nambah wawasan di Youtube.

Nb: eh iya, btw saya punya youtube channel loh bisa dilihat di => Sini <=. Kritik dan saran sangat dibutukan. #promosieww.

Pas lagi lihat video berita tentang Tax Amnesty, saya akhirnya teringat tentang Pajak, otomatis teringat masa-masa dimana pernah merasakan kursus Brevet Pajak di IAI (Bisa dilihat disini). Waktu itu ada ujian tentang KUP A dan B. Sebenarnya ujiannya Open Book, tapi males bawa buku UU yang berat itu (biasanya saya cuma bawa modulnya saja). Lagipula, saya juga masih kurang memahami bahasa-bahasa pajak yang rumit di UU KUP. Oleh karena itu, untuk memahami, saya menggunakan metode merangkum, dan merangkumnya tidak di tulis tangan melainkan menggunakan Ms. Word. File nya masih ada di Laptop, kemudian jadi pengen share kesini untuk bahan belajar buat ujian brevet AB maupun ujian di kampus, siapa tahu membantu heee.

Karena masih ada yang kurang, saya kembali merapihkan rangkuman ini. Setelah menurut saya rapi, seperti ini penampakan rangkumannya

KUP

Ada 2 rangkuman: yaitu rangkuman KUP A&B dan rangkuman sanksi administratif perpajakan. Link downloadnya yaitu:

Versi Word

a. Via 4Shared : Klik Dimari

b. Via Google Drive : Klik Dimari

Versi PDF

a. Via 4Shared : Klik Dimari

b. Via Google Drive : Klik Dimari

 

Sekian dan semoga bermanfaat ya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.


Nb2: Buat yang berbaik hati yang udah download atau baca, mungkin bisa kasih feedback di komentar hee. Terimakasih sebelumnya..

 

==

(Kursus privat akuntansi/zahir/accurate dan jasa pembuatan laporan keuangan, Klik Disini)

Pertama Kalinya, Praktek Kerja Lapangan/Magang di PT LSI

Assalamulaikum Wr. Wb

Haloha..Spada..

Terlintas di pikiran gw, untuk menuliskan pengalaman gw yang satu ini karena gw bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan yang mengharuskan magang atau Praktek Kerja Lapangan (PKL) sebagai syarat kelulusan. Saat SMK gw magang/PKL di PT LSI, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang retail dan merchandise selama 2 bulan. Sebagai reminder gw juga buat kedepannya, kelak kalau gw udah tuaan dikit, gw inget kalau gw pernah muda yang kalau terjun kerja pertama kali pasti ada aja lebih dan kurang yang dialami. Jadi suatu saat bisa memaklumi kerja anak muda yang baru pertama kali kerja yang masih penuh kelabilan. (ngomong apa aku iki?)

Gw PKL di PT LSI ini udah lama banget kelarnya yah sekiranya sudah 5 tahun berlalu. Dulu pas abis PKL, pernah nulis pengalaman gw ini tapi cuma mendem di Flashdisk yang akhirnya Flashdisk itu hilang berserta semua data didalamnya. Karena udah lama maka ada momen yang udah gw lupa dan ada momen yang selalu gw inget sampai sekarang.  Oleh karena itu gw singkat aja per-point, yang kata temen gw tetep panjang. Iya emang kalo di word-in sampe 6 halaman LOL. Siapkan kopi dan camilan sebelum membacanya. #berasaadayangbaca #anaknyasokPD.

Oke check this out..


  1. Cara di Terima di Tempat Magang

Pada awalnya gw mau nyari sendiri bareng teman-teman sepermainan. Tapi, akhirnya gw memilih buat ditempatin sama sekolah. Caranya simpel aja, waktu itu Kajur Akuntansi gw dateng ke kelas gw ngedata siapa yang belum dapat tempat magang dan ditanya siapa yang PKL di PT LSI. Gw angkat tangan, mengiyakan, dan nama gw dicatat. Ada sekitar 5 orang dari kelas gw yang sama kayak gw. Terus beberapa hari kemudian, gw dan teman-teman yang akan PKL di PT LSI dipanggil ke lantai 3 dekat ruang Lab dikasih wejangan sama Kajur Akuntansi dan Kajur Adm. Perkantoran. Terus sekitar 3-4 hari kemudian (dihari senin) udah mulai PKL.


  1. Teman-teman seperjuangan

Awal mulanya ada 4 orang yang duluan masuk ke PT LSI. Abis itu masuklah 21 orang (yang didalamnya termasuk gw) yang dipencar ke berbagai bagian di gedung putih 3 lantai itu. Terakhir, ada lagi 6 orang yang masuk setelah gw yang semuanya ditempatin di bagian HRD. Total ada 31 anak. Jadi untuk periode Akhir Mei – Awal Oktober 2011 anak PKL di PT LSI berasal dari sekolah gw semua. Mereka semua berasal dari jurusan Akuntansi dan Adm. Perkantoran (AP).

Hampir semua dari anak AP yang PKL di PT LSI itu enggak gw kenal semua, bahkan nama dan wujud mereka sekalipun. Jadi, ada anak SMK 20 yang justru gw taunya karena sama-sama PKL di PT LSI. Untuk anak Akuntansi nya, gw juga enggak begitu deket-deket banget apalagi kebanyakan dari kelas sebelah yang sebenarnya gw juga cuma tau nama doang. Berbincang dengan mereka sebelum ini belum pernah.


  1. Saat H-1

Gw sangat deg-deg an parah. Gw bingung gw harus apa, bersikap bagaimana, bakalan enak apa enggak. Apalagi gw enggak bareng teman-teman sepermainan gw. Berfikir nanti kalo gw apa-apa sendiri disana gimana, orang-orang disana gimana, kerjaan gw dinilai jelek gimana, nilai PKL gw jelek gimana, dan sekelumit khayalan negatif yang bikin gw parno sendiri. Sekarang gw memaklumi hal tersebut karena gw saat itu bahkan belum punya KTP (16 tahun) alias masih unyu.


  1. Hari pertama

Gw kesekolah dulu. Gw pakai baju sekolah biasa putih abu-abu dan membawa blazer almamater. Setelah semua anak PKL di PT LSI pada ngumpul, kita semua plus 2 kajur menuju ke TKP pakai metro mini. Menunggu metro mini lumayan lama, hampir setengah jam. Setelah metro yang ditunggu datang, kita semua menguasai metro mini.

Setelah sampai, kita nunggu dulu di tempat yang setelah beberapa minggu disana gw tahu kalau itu loket supplier. Sementara, 2 kajur kita masuk kedalam untuk bertemu dengan HRD. Nunggu lagi, ada satu jam an. Abis itu, kita semua masuk naik ke lantai 3 (ruang meeting). Setelah kita semua duduk cantik lengkap dengan blazer almamater, 2 kajur tercinta kita pamit undur diri meninggalkan kita semua. Bu HRD kemudian memberi salam, lalu mulai me-list kita semua akan ditempatkan di bagian mana.

Setelah kita tau di divisi mana kita ditempatkan, bu HRD mulai ‘mendistribusikan’ kita semua ke divisi kita masing-masing. Bu HRD membawa gw ke sekretaris divisi yang akan gw tempatin. Gw berkenalan dengan semua orang yang ada di divisi gw, bahkan sampai ke Direkturnya. Lalu, ternyata ada 2 anak PKL lain di divisi gw. Mereka bakal gw gantiin. Jadi tradisinya, sebelum masa magang mereka selesai, anak PKL sebelumnya harus ngajarin anak PKL baru mengenai pekerjaan yang akan kita lakuin selama magang, biasanya selama 2 hari. Nah gw di ajarin sama seorang cewek sebut saja namanya Mawar. Mawar jurusan pemasaran dan setahun diatas gw. Yah, gw dengan nurutnya ngintilin doi seharian, tapi dia suka keluyuran enggak jelas ninggalin gw yang enggak tahu harus apa karena dia cuma bilang tunggu dia. Karena keluyuran dia lumayan lama bisa berjam-jam, Itu yang membuat gw bete sama dia.

Kocaknya lagi, di hari kedua, dia ngomong sama seorang anak PKL yang kebetulan sejurusan sama gw kalau gw itu lemot banget kalau diajarin. Dia emang kayak udah mulai kesel gitu di hari kedua sama gw. Mungkin gw ketahuan betenya juga. Ngajarin gw mukanya enggak enak terus sampai akhirnya gw minta temennya dia aja yang ngajarin gw. Untung temannya itu masih baik, dan gw cocok kalau sama dia. Gw sih bingung sisi lemot gw kayak gimana, apa dengan gw nanya-nanya hal yang kurang jelas itu pertanda gw lemot? Lagian gw juga baru 2 hari disini, dia udah berbulan-bulan melakukan pekerjaan sama. Kayak enggak pernah ngerasain jadi anak baru aja. Tapi tetep aja, gw berterimakasih sama Mawar karena suka enggak suka gw bisa beberapa hal di kantor juga karena dia, dan juga sama temannya gw juga berterimakasih. J

Gw shock juga, saat tau, kerjaan gw disini lebih banyak ‘jalan-jalan’ nya dibanding duduk manisnya. Hari pertama magang, kaki gw pegel, belum juga gw harus berdiri terus dimetro. Boro-boro dapet tempat duduk kalau di metro mini yang suka miring ke kiri oleh sesaknya penumpang.


  1. Pekerjaan yang dilakukan

Minggu pertama setelah gw ditinggal Mawar dan temannya. Gw bener-bener pusing ampe kebawa mimpi. Kadang suka keder alurnya bagaimana dan terkadang kalau udah stuck gw suka nanya ke bu sekretaris atau sama yang ngasih tugas dan sering banget dibilang seperti ini “Emang enggak diajarin sama anak magang sebelumnya?” dan selalu gw jawab “Maaf Pak/Bu, Pas diajarin belum pernah disuruh begini pak/bu.”. Untung diajarin sih akhirnya.

Minggu ke dua, gw udah mulai kena teguran-teguran remeh seperti memasukkan dokumen ke odner yang salah alias odner manajer lain, sehingga yang punya sampe ngomel-ngomel nyariin dokumen enggak ketemu. Padahal, itu bukan gw yang masukin, tapi temen satu PKL gw yang huft itu. Tapi gw yang kena omel gegara temen gw itu enggak masuk ke kantor dan gw juga bukan anak tukang ngadu yang bilang kalau temen gw yang salah masukin dokumen. Gw juga pernah melakukan kesalahan yaitu bolongin dokumen yang seharusnya enggak boleh dibolongin. Gw langsung dijutekin saat itu juga. Kocaknya, gw selalu kena di orang yang sama. Hmm..

Minggu ke tiga, teguran-teguran remeh dan kesalahan-kesalahan konyol udah enggak pernah gw terima. Tapi, gw masih mencoba mencari tau, kenapa gw harus melakukan hal ini, impact nya apa ke ini. Gw masih belum dapet logika kenapa gw menurunkan dokumen hampir semua divisi-divisi di PT LSI. Tentang kegunaan dokumen ini untuk apa. Kenapa harus fotokopi terus dipisah-pisah lembarannya. Kadang, kalo lagi diminta bantuan, gw suka kerjain sambil suka nanya-nanya sama bu sekretaris.

Minggu ke empat dan seterusnya, akhirnya sebagian besar gw udah ngerti. Gw ngerasa senang sekali walau lelah sekali. Gw selalu ada kerjaan. Kalau lagi gila, seharian gw enggak duduk sama sekali. Seharian gw bakal mondar-mandir bolak balik dari divisi satu ke divisi lain terus balik lagi kedivisi gw, terus fotokopi dokumen terus lembarnya dipisah, terus scan, terus nge-fax dokumen, terus ke divisi terkait, terus filling masukin ke odner yang bener sesuai kode. Gw cuma pernah sangat gabut benar-benar enggak ada kerjaan sama sekali itu hanya 1 hari, saat ada pembukaan gerai ISL baru, semua karyawannya pada kesana semua, walhasil dihari itu anak PKL lantai 2 pada gabut dan ngobrol-ngobrol.

Pekerjaan gw yang menurut gw paling keren adalah input produk-produk ke suatu sistem yang saat itu kalau kita tinggal agak lamaan dan belum kita lock data yang bakal kita input enggak akan kesimpan (pengalaman, walhasil gw mesti input ulang). Karena gw berasa benar-benar kerja kantoran, duduk manis didepan komputer dan kata yang ngasih tugas ini, kerja gw cepet. Gw mulai input ini juga karena asmen doi lagi cuti, jadi manajernya minta bantuan gw.


  1. Interaksi dengan Para Karyawan

Kata orang-orang (entah anak PKL sebelum gw, maupun dari karyawan), orang-orang di divisi gw termasuk orang-orang yang baik. Gw merasakan hal itu. Gw suka diajakin ngobrol sama karyawan di divisi gw. Bu Sekretaris juga baik. Bahkan karyawan yang pernah ngomelin gw pernah ngajak makan bareng bareng bu sekretaris. Kalo nginget itu gw mikir “Dia nyesel kali ya pernah ngomelin anak PKL unyu macem gw.” Sambil senyum-senyum sendiri.

Terus orang-orangnya beragam. Ada yang masih single, ada yang udah berkeluarga tapi masih muda, ada yang udah bapak-bapak dan ibu-ibu, tapi semua gw pukul rata gw panggil Bapak atau Ibu. Ada yang heboh banget, serius banget, sampe ada yang pendiem banget (kayak gw persis ._.v). gw inget banget dia duduk persis dibelakang gw dan paling sering minta gw buat scan dokumen bejibun. Kebanyakan udah pada diatas 30-an tahun kayaknya.


  1. Benefit yang didapatkan

Gw jadi tahu, oh gini toh orang kantoran kerjanya. Suatu hal yang mungkin enggak gw dapetin kalau gw milih masuk SMA waktu itu. Walau pekerjaan enggak nyambung sama jurusan gw di SMK, yaitu Akuntansi, tapi menurut gw sih enggak masalah selama ada ilmu yang bisa didapet. Gw jadi tahu cara muterin dokumen sampe itu dokumen sampai ke bagian-bagian yang tepat, kegunaan dokumen tersebut, dan bahkan waktu itu gw tau harga asli dari barang-barang yang divisi gw pegang kalo dari pabrik. Dan itu jauh banget yak wkwkw. Lagian, enggak mungkin anak SMK ngolah data-data keuangan yang krusial kan. Mana mau perusahaannya.

Next, masalah money. Ada beberapa temen gw yang enggak dapet semacem gaji/uang saku/transport atau apalah bentuknya. Jadi cuma dapet nilai PKL doang. Kalau di PT LSI, gw dikasih uang transpor per jumlah kehadiran yang jumlahnya pas banget untuk mengganti uang transpor gw PP rumah gw-kantor. Dapet makan siang gratis di kantin kantor, ambil nasi sepuasnya haha atau pas puasa dikasih snack buat berbuka, bahkan kalau lagi enggak puasa (halangan) bisa juga makan siang dikantin tetep juga dikasih snack he he he. Terus di pantry tersedia juga kopi dan teh gratis juga. Biasanya pas gw dateng sebelum memulai aktivitas, biasanya gw ngopi cantik dulu di pantry.

Sering juga, gw dikasih produk yang ada di divisi gw. Pernah, waktu seminggu sebelum lebaran gw dikasih produk yang isinya macem-macem rupa, berat banget tas gw. Bahkan temen gw cewek yang beda divisi sama gw ada dikasih sekerdus sampai gw inget banget, gw bantuin ngangkat dari kantor ke tempat tunggu metro mini. Terus pas gw pamitan mau out, dikasih lagi. Pas 2 minggu kemudian gw dateng lagi ambil nilai PKL + uang transpor gw dikasih sekerdus lebih. Gw ampe bingung bawa pulangnya bagaimana. Gegara enggak kuat walhasil gw minta jemput ortu. Nilai PKL gw lumayan lah kalo di grade masih A. Hihi.


  1. Jarak tempuh dan kendaraan dari rumah ke kantor

Berdasarkan Google Maps, jarak tempuh dari rumah ke PT LSI itu adalah 1 Jam 15 menit. Pada kenyataan dilapangan, gw pulang jam 5 sore bisa-bisa baru sampai dirumah jam 7 lewat dan pernah sampai setengah 8. Kalau dari rumah ke kantor, pertama gw naik angkot (tarif pelajar Rp 2000), abis itu naik metro mini (tarif pelajar Rp 1500), abis itu naik metro mini lagi (Rp 1500), tapi kadang-kadang gw suka kasih Rp 2000 kalau lagi enggak ada 500an atau abangnya enggak ada kembalian, abis itu gw jalan kaki dari tempat turun metro sampai ke PT LSI dan itu lumayan jauh kira-kira 10 menit. Tapi karena lama-lama udah biasa jadi enjoy aja.


  1. Pertemanan di Kantor dengan Anak Magang/PKL

Di divisi gw, gw bareng sama anak PKL yang sebelumnya sama sekali belom pernah gw liat disekolah. Dia cowok, tinggi, kurus, kalau kata gw dia kategori pendiem. Atau mungkin karena gw pendiem, dia juga jadi pendiem. Entahlah. Masih misteri sampai sekarang.

Minggu pertama masih rajin. Gw sama dia jarang ngobrol. Paling kalau ngomong soal kerjaan kita. Gw orangnya enggak pandai memulai pembicaraan apalagi sama cowok. Lagipula, kerjaan juga banyak yang mesti dikerjain. Kalau istirahat juga perkumpulannya nya beda. Dia sama temen-temen cowoknya, gw ya sama temen-temen cewek. Minggu selanjutnya, dia udah mulai ilang-ilangan. Bener-bener parah. Di telfon ga diangkat, di SMS ga dibales, di tunggu enggak dateng. Sekretaris gw nanyain melulu ke gw, gw cuma bisa angkat bahu. Terus gw berfikir “Jangan-jangan nih anak ilang gegara jarang gw ajak ngobrol lagi atau ga nyaman sama gw lagi.” Heaak. Walhasil, kerjaan yang harus dilakuin 2 orang, gw handle sendiri, mungkin ini penyebab gw enggak pernah gabut. Kalau berdua mungkin enggak rempong banget kali ya.

Minggu terakhir sebelum kelar, dia kembali dateng. Pucet sih, kayak abis sakit, kata anak-anak yang lain ke gw. Gw sih enggak ngeh. Lagian kalau sakit kenapa enggak bilang-bilang coba? Tapi hati rada nyesel sih karena sempet suuzon sama dia.

Lalu, gw berteman dengan anak-anak PKL sejurusan sama gw dari divisi lain. Awalnya gw deket sama anak PKL, sebut saja Bunga yang divisinya bersebelahan sama gw. Gw suka nyamperin dia kalau di divisi dia lagi enggak ada orang. Dia suka nyamperin gw ke tempat fotokopi kalau dia lagi enggak ada kerjaan dan kebetulan gw lagi fotokopi dokumen bejibun. Mulai ngobrol seru, bahkan gw dan dia suka kartun bola dan memfavoritkan pemain yang sama. Bunga ini, teman sepermainannya PKL disini semua, jadinya gw ikutan gabung kalau lagi makan siang atau kalau lagi pada kumpul-kumpul. Akhirnya, gw jadi bisa enjoy sama mereka, walau pada awalnya gw kaku juga. Pas udah kelar PKL, juga masih bisa enjoy kalau lagi ketemu secara sengaja maupun enggak sengaja.


  1. Other “Benefit”

Kalo yang point ini mah santai aja jangan ditelan secara serius. Apalagi sampai dibikin penelitian atau topik Tugas Akhir. Tolong jangan haha. Jadi, karena gw sering banget bolak-balik jalan, dan jarak dari turun metro sampai kantor itu lumayan jauh, ditambah sebulan pertama PKL itu tepat saat bulan Ramadhan, walhasil berat badan gw turun, lumayan, sampai beberapa orang yang udah enggak liat gw selama 2 bulan berkata “Yun, kurusan lu serius gw enggak boong.” Ah, kapan perkataan itu dilontarkan kembali oleh teman-teman gw, hmmm.. Masih misteri 😛


 

Yah, kira-kira seperti itu saat gw menjalani kehidupan gw di PT LSI selama 2 bulan, meninggalkan kehidupan sekolah, dan begitu berakhir magang/PKL gw di PT LSI dan kembali kesekolah, suasana masih sepi banget karena anak-anak lain masih pada PKL, malah ada yang baru PKL. Terus, beberapa hari kemudian yang udah kelar PKL nya, yang udah sekolah harus ikut UTS. Bayangkan, sudah 2 bulan enggak nyentuh buku, disuruh UTS. Akhirnya, Sistem Kebut Semalam dilakukan sambil ngopi-ngopi cantik.

Jadi, itu pengalaman magang/PKL gw pertama kali banget sepanjang gw hidup di dunia (cailah). Mungkin udah basi banget gw ngomong ini tapi gw mau ucapin terimakasih ke Bu Kajur yang mau ngurus dan nganterin ke PT LSI untuk pertama kalinya, Bu HRD yang nempatin gw di divisi yang baik, Bu Sekretaris yang baik yang suka bantuin gw kalo lagi ribet sendiri. Para karyawan Divisi DF PT LSI yang mantap abies. Mawar dan temannya yang udah ngajarin gw sebelumnya. Teman-teman PKL, yaitu Bunga dkk, terimakasih atas canda tawanya, btw masih inget gak kalo kita foto di rooftop PT LSI hehe.

Nah, bagaimana nih kalau kalian sekalian, kalau pada punya pengalaman PKL juga, boleh tuh di share juga. Atau kalo pernah PKL sama gw, bisa kali sapa gw. Hehe.

Oke. Kurang lebihnya mohon dimaafkan. Sekian dan terimakasih semuanya.

Babay..

Wassalamualaikum Wr. Wb.